|
Cilegon 10 Maret 2010 para anggota team peringatan HUT STTIKOM Insan Unggul Cilegon yang ke 7 tahun sibuk menyiapkan segala peralatan dan perlengkapan yang akan dibawa pada saat pendakian menuju negeri atas awan. Negeri atas awan adalah sebutan bagi gunung yang memiliki ketinggian lebih dari 2500 Mdpl (Meter dari permukaan laut) otomatis pada ketinggian tersebut awan berada dibawahnya. Pendakian ini telah di rencanakan 1 bulan sebelumnya jadi segala macam persiapan dan manajemen perjalan telah matang dan siap. Sehubungan gunung yang akan didaki ini mempunyai banyak sejarah dan cerita mistis, kami pun bertekad untuk mendaki dan memperingati HUT STTIKOM Insan Unggul yang ke 7 di Puncaknya di ketinggian 3078 Mdpl. Anggota team berjumlah 7 orang dan semuanya adalah anggota dari MAPALA STTIKOM Insan Unggul (M-SIU) diantaranya adalah Anes, Bayu, Dani, Edo, Hadi, Herman dan Norman. Mereka bertujuh berasal dari angkatan, kelas dan jurusan yang berbeda namun mempunyai satu tekad dan tujuan yang sama dalam Organisasi MAPALA. Perjalanan kali ini di ketuai oleh Norman ia menjabat sebagai penasehat di MAPALA SIU. 12 Maret 2010 tepat pukul 22.15 WIB sehabis pulang kuliah karena Hadi dan Norman kuliah malam semua berkumpul di basecamp MAPALA dan langsung mengadakan brifing untuk keberangkatan. Setelah brifing dan doa satu per satu anggota team keluar dari basecamp dengan membawa tas-tas besar (Carierl) yang melebihi tinggi kepala dari yang membawanya. Maklum perbekalan dan perlengkapan team yang kami bawa sangatlah banyak. Keberangkatan pun dimulai. Para anggota team pun berjalan menuju tempat menunggu bis di Jon in depan masjid Agung Nurul Ikhlas Cilegon. Maklum kami akan naik bis malam jurusan Cirebon. Setelah hampir 1 jam menunggu, bis jurusan Cirebon pun datang dan kami pun naik bis yang pada waktu itu menunjukkan pukul 23.20 Wib. Perhitungan kami jika kita berangkat sekarang nanti pagi kita sudah sampai di Cirebon. Pada saat di bis banyak para penumpang lain yang bertanya kepada kami ingin naik gunung ya? Dan kami pun menjawab “iya kami akan naik gunung Ciremai”. Kebanyakan dari penumpang yang bertanya dan ngobrol bersama kami sudah tahu gunung Ciremai walaupun mereka belum naik gunung tersebut karena gunung Ciremai dapat terlihat dari jalan Pantura. Kota demi kota terlewati, Serang – Tangerang – Jakarta – Bekasi – Karawang – Cikampek dan pada pukul 07.15 Wib kami pun tiba di terminal Cirebon. Dari bis kami beristirahat sejenak. Tak lama kemudian kami melanjutkan perjalanan dengan menaiki bis ¾ (Elp) menuju ke kota Kuningan. Tapi bukan kota Kuningan yang kami tuju karena kami akan berhenti di pasar Cilimus untuk naik angkot yang menuju ke Linggarjati. Kami memilih jalur pendakian melewati Linggarjati karena beberapa faktor. Pertama, Linggarjati merupakan jalur umum yang dilalui para pendaki untuk sampai ke puncak Ciremai. Kedua, alat transportasi umum mudah ditemukan. Ketiga, di Linggarjati terdapat tempat bersejarah bagi bangsa Indonesia karena disitu terdapat Gedung Naskah (yaitu tempat terjadinya Perjanjian Linggarjati antara Indonesia dengan Belanda).
Sesampainya di pos Taman Nasional Gunung Ciremai jalur pendakian Linggarjati kami mengisi perut kosong kami yang belum sarapan pagi. Sehabis sarapan pagi kami mengisi daftar tamu di pos jaga. Adapun sebagian anggota team mengisi jerigen air 5 liter untuk perbekalan air karena gunung Ciremai selain dikenal jalurnya yang Extreme dikenal juga sebagai gunung yang susah untuk mendapatkan air. Air hanya ada di pos 2 (Cibunar) yaitu tempat perkemahan yang sering dipakai oleh anak-anak pramuka atau anak-anak sekolah camping. Adapun pos yang akan dilalui adalah berjumlah 12 Pos, Linggarjati – Cibunar – Leweung Datar – Kondang Amis – Kuburan Kuda – Pangalap – Tanjakan Seruni - Bapatere – Batu Lingga – Sangga Buana 1 – Sangga Buana II – Pengasinan – Puncak
Pukul 09.00 Wib Pendakian pun dimulai. Satu persatu pos kami lalui, Linggarjati – Cibunar – Leweung Datar, dengan semangat yang masih membara di tubuh setiap anggota team. Trek yang kami lalui menanjak terus tidak ada bonus ( datar ) dan sebagian dari anggota team pun istirahat sejenak untuk mengisi tenaga. Sesampainya di pos Kondang Amis waktu menunjukan 12.35 Wib. Kami beristirahat dan memasak makanan untuk makan siang. Sehabis makan siang kami melanjutkan pendakian menuju pos Pangalap. Tak terasa hari beranjak gelap dan ketua team memutuskan untuk bermalam di pos (selter kecil) antara pos Kuburan Kuda dan pos Pangalap dengan harapan besok pagi pendakian dilanjutkan menuju pos terakhir. Malam terasa dingin. Dinginnya sampai menusuk tulang. Wajar karena kami berada di ketinggian 1850 Mdpl. Pagi pun tiba. Seluruh team bangun dan bergegas melakukan tugasnya masing-masing karena pukul 07.00 Wib pendakian harus segera dilanjutkan demi mencapai pos Pengasinan tepat waktu. Team pun sarapan pagi dengan menu yang cukup untuk mengisi kembali tenaga. Sehabis sarapan kami bergegas packing dan setelah itu kami melakukan brifing kecil untuk mengevaluasi pendakian kemarin dan setelah brifing selesai kami melanjutkan pendakian
Satu persatu pos kami lalui di pendakian hari kedua ini. Medan dan trek yang kami hadapi semakin ekstreme dan curam. Tanjakan seruni pun terlewati dan tinggal 5 pos lagi yang akan kami tuju. Perlahan tapi pasti kami melangkahkan kaki menuju pos selanjutnya yaitu pos Bapatere. Pukul 12.34 Wib kami sampai di pos Bapatere. Karena tenaga di tubuh personel team masih cukup, ketua team memutuskan untuk tidak makan siang karena jika makan siang tubuh akan terisi dan tubuh akan semakin berat karena didepan kami ini trek terus menanjak. Atas dasar itu kami pun hanya memakan snack – snack saja. Setelah cukup kami pun melanjutkan pendakian sambil berharap tiba di pos pengasinan sebelum gelap. Tak terasa kami sampai di pos Batu Lingga. Di pos ini kami bertemu dengan 2 orang pendaki yang sama ingin menunju ke puncak. Mereka berasal dari Bekasi. Kami pun melanjutkan pendakian bersama dengan 2 orang tadi. Pendakian bertambah berat karena oksigen mulai menipis. Nafas terengah-engah pun terdengar dari para personel team. Langkah demi langkah dapat dihitung. Setiap 30 langkah kami istirahat hanya untuk menarik nafas. Perlahan tapi pasti kami pun sampai di pos Sangga Buana 1. Dari pos ini sudah dapat terlihat posisi awan sudah ada dibawah kami. Pos ini berada di ketinggian 2500 Mdpl. Semangat dari personel team pun kembali tumbuh karena tinggal 2 pos lagi kami akan segera dekat dengan puncak. Kami melanjutkan pendakian. Sesekali kami menghadap ke belakang untuk melihat pemandangan yang indah hanya sekedar memberi semangat kepada diri kami sendiri. Satu jam kemudian kami tiba di pos Sangga Buana II. Tanpa istirahat kami lalui pos tersebut dengan harapan kami dapat sampai di pos Pengasinan lebih awal dari prediksi manajemen perjalanan. Antar personel pun saling memberi semangat “ Hayo semangat. Puncak sudah dekat. Tinggal 1 pos lagi”. Teriakan itu yang terdengar dari tiap personel dan akhirnya kami tiba di pos Pengasinan pada pukul 16.27 Wib. Dengan menarik nafas panjang kami beristirahat di pos Pengasinan. Pos Pengasinan berada pada ketinggian 2800 Mdpl. Dari pos ini kami dapat melihat pemandangan yang cukup indah karena awan berada di bawah kami dan kami dapat melihat pemandangan kota Cirebon dan pemandangan pantai laut Jawa. Dari pos ini puncak Gunung Ciremai sudah tampak jelas terlihat. Tak lama berselang kami pun bergegas mendirikan tenda dan memasak. Di pos ini kami akan bermalam semalam lagi dan melakukan pendakian ke puncak besok pagi dengan harapan mendapatkan pemandangan sunrise (matahari fajar). Sehabis makan personel merasa kedinginan karena personel belum melakukan aklimatisasi ( penyesuaian diri/ tubuh pada ketinggian ). Tak banyak bicara satu persatu personel pun masuk ke dalam tenda dan beristirahat. Pukul 04.00 Wib ketua team membangunkan semua personel berharap dapat melanjutkan pendakian menuju puncak agar dapat melihat sunrise. Tapi apa boleh buat semua itu tidak terwujud karena tidak satupun personel yang bangun dari tidurnya karena malas, letih dan dingin yang menerpa tubuh. Ketua team pun mentolerir dan pada pukul 05.00 Wib ketua team membangunkan kembali. Akhirnya usaha ketua team yang kedua ini mendapatkan hasil. Semua personel pun bangun dan segera bergegas membuat sarapan pagi. Setelah sarapan pagi kami melakukan brifing kecil untuk teknis pendakian menuju puncak. setelah itu kami melanjutkan pendakian menuju puncak. Oya perkiraan kami waktu yang di butuhkan menuju puncak tidak lebih dari 1 jam. Trek masih sama seperti di pos Bapatere menanjak cukup extreme. Walaupun nafas terengah – engah karena kekurangan oksigen kami semangat sekali karena sebentar lagi kami akan tiba di puncak. “ Puncak sudah dekat kata ketua team, hayo semangat ” dan akhirnya kami pun sampai di puncak Gn. Ciremai di ketinggian 3078 Mdpl. Sujud syukur pun kami lakukan dan tak lupa mengagungkan kalimat “ Subhanallah”. Kami tak menyangka akhirnya kami sampai di puncak. Pemandangan dari puncak lebih indah dibandingkan dengan pemandangan pada saat di pos – pos sebelumnya. Di puncak terdapat sebuah kawah yang cukup indah karena Gn. Ciremai merupakan salah satu gunung berapi yang sudah tidak aktif. Hanya kepulan asap putih yang muncul dari dalam kawah. Di puncak kami tidak lupa untuk foto – foto dan tak lupa juga kami mengibarkan Bendera Merah putih dan banner yang bertuliskan “ MEMPERINGATI HUT STTIKOM INSAN UNGGUL YANG KE 7 ”. Itu adalah tujuan utama kami memperingati HUT STTIKOM Insan Unggul yang ke 7 di puncak Gunung Ciremai. Kami tak membuang-buang waktu. Hanya sekitar 2 jam kami berada di puncak walaupun kami merasa tidak cukup dan ingin masih berlama-lama di puncak namun Alam berkata lain. Kabut tebal mulai turun. Kami khawatir terkena badai sehingga memutuskan untuk segera turun. Sesampainya di Pos Pengasinan kami pun langsung packing dan memutuskan untuk segera turun gunung hari itu juga. Perjalanan pulang sangatlah cepat karena tidak sampai 9 jam kami sudah sampai di pos 1 Linggarjati tidak sama seperti waktu yang dibutuhkan untuk mendaki. Kami tiba di pos linggarjati pukul 17.45 Wib. Kami bersyukur sudah sampai di pos 1 dan tidak kemalaman pada saat turun gunung…. Di pos 1 kami membersihkan tubuh kami yang kotor, makan dan bersiap untuk pulang ke cilegon. Satu lagi yang yang belum terlaksanakan dalam perjalanan kami ini yaitu melakukan wisata sejarah ke Gedung Naskah Linggarjati karena Gedung Naskah Linggarjati sudah tutup jam 16.00 Wib. Namun tidak apa-apa. Suatu saat kami akan kembali lagi ke Linggarjati. Tak membuang-buang waktu kami pun siap untuk pulang menuju Cilegon. Kami berpamitan kepada petugas TNGC dan langsung menuju ke terminal Cirebon dengan harapan besok pagi kami sampai di Cilegon. Setibanya di terminal Cirebon pukul 10.35 dan kami menunggu bis di pinggir jalan dengan wajah yang lelah. Tak lama kami menunggu, bis pun datang dan kami langsung naik bis itu. Di bis kami tertidur karena cukup lelah. Perjalanan menuju cilegon memakan waktu kira-kira 8 jam dan benar setelah 8 jam kami akhirnya sampai di kota Cilegon tepatnya di Terminal Bayangan PCI. Kami langsung naik mobil angkot menuju kampus untuk membongkar semua perlengkapan di basecamp MAPALA SIU. Setelah beres kami pun pulang menuju rumah masing- masing. “ MAPALA SIU : EKSPEDISI BELUM BERAKHIR ” By : MAPALA SIU |